Powered By Blogger

Rabu, 18 September 2019

damn

menikah akankah aku menikah layaknya manusia pada umumnya?
apakah kebosanan ini disebabkan karena aku terlalu penyendiri?
mengapa teman teman terdekatku menikah diumur yang masih merelakan masa muda mereka?, apakah mereka juga kesepian seperti aku sekarang?
apakah masa mudaku berarti apabila sudah menikah?
menjalani hidup bersama layaknya orang dewasa, belajar menjadi dewasa mempunyai tanggung jawab dan berfikir kritis,?
apakah sewaktu kecil mereka sudah memikirkan hal ini?
apakah mereka punya cita cita yang didambakan?

aku punya cita cita agar semua orang dapat menggapai cita citanya dengan lebih mudah, dan bisa tersenyum akan cita cita nya,
aku terlalu pemalas untuk melakukan hal itu
aku bisa
sendirian
tapi aku terlalu malas

sepertinya indah melihat senyuman mereka

maaf ya

ingatan

semua angan angan manusia terkadang hanya kehampaan apabila semuanya fana, di kehidupan lama apakah seperti ini ?
aku bekerja untuk hidup dan seakan hidup hanya untuk bekerja apakah ini proses yang Tuhan berikan kepadaku, tak apa apabila kehendak Tuhan seperti itu, aku sangat menerimanya, mungkin juga ini merupakan proses dmna pendewasaanku dimulai, dipersiapkan agar bisa menghadapi kehidupan yang lebih menantang, dan semua orang disekitarku mungkin adalah skenariomu juga, agar melengkapi kekurangan diriku, aku terkadang bosan akan semuanya, tapi mungkin akan lebih apabila aku hanya termenung akan cita cita yang tak pernah kulangkahkan, aku bosan akan kesibukan tak berarti yang jangan sampai merenggut umurku skarang, aku jengah dengan kebodohan, dunia itu luas tapi aku terkekang di dunia yang luas ini, aku tak bisa menjadi orang lain, entahlah..

Selasa, 17 September 2019

pemikir

kursi kantor yang bahagia karena telah diduduki orang yang bersyukur terhadap tuhan, serta meja sebagai tameng dan mouse sebagai tangan, anggaplah monitor sebgai tubuh dan keyboard tak behenti mengoceh, oke cpu lu sebagai otak, jadi aku siapa?
aku menjalankan mereka "komputer" layaknya manusia, dengan bahasa yang baik, serta tingkah laku yang menurutku melebihi kehidupan asliku, dulu waktu kecil orang negara ini adalah manusia, mirisnya entah mengapa setelah mereka dewasa, apakah jalan menjadi manusia ini yg telah mereka pilih, maksudku hanya sedikit segelintir yang telah menjadi manusia setelah mereka menjadi dewasa, dan sisanya hanya menjadi "robot" yang takluk akan pembuat aturan, bodoh yaitu si tamak,
aku tidak baik, tidak bnyak yang bisa aku contohkan untuk sekitarku, tapi aku mngerti permasalahan yang menurutku kelam ini, kasihan generasi mendatang harus merasakan beban kebodohan yang terlapisi tembok maha besar, ditambah lingkungan yang sama bodohnya,
aku suka menjadi pemikir,
-bersambung