Powered By Blogger

Sabtu, 17 Oktober 2015

must achievement !!

mendengarkan lagu only god know why mengingatkan pada kehidupan gw yg blm teratur dan penuh akan kesia siaan waktu, semua nya berjalan seperti siput di bawah tanah yg mengejar dedaunan lunak yg ada di atas jauh, memang secara perlahan tetapi tempo berselancar di lendir yang sangat lama, aku butuh aturan, aturan yg bukan dibuat oleh sistem, yg semua orang lakukan sekarang, aku butuh akan membuat aturanku sendiri dan sangat sulit

Senin, 12 Oktober 2015

pagi hari 5 okto 15

pagi tadi dengan sangat tergesa gesa gw bangun dengan ketelatan yg tidak beda jauh dengan ketelatan di pagi hari lain, smga ketelatan ini bisa menjadi ketelatenan dan tak merubah gw menjadi gila dan tetap kikuk daintara kaum hawa ehehe, #catetanpelupa

simulasi

akhir akhir ini ehhh engga.., dari sejak sma gw mengenal arti kata konspirasi, mungkin kata ini doktrinan dari sodara gw areza (reza nugraha), sedikit tentang areza,, dia adalah cowok beranatomi laki laki, punya batang, mata yg bulat besar mengindikasikan ketakutan, rambut hitam mulai menipis kiri kanan, tinggi 165an, trus gw mengenal areza sejak gw masih tk, dia udh ane anggap sebagai kakak kandung ane sendiri, dari kecil maen bareng bercanda bareng kmna mna bareng, areza anak nya kakak ibu gw, tepatnya bude gw, dia orangnnya penuh dengan keceriaan, supel, pemalas, gak suka olahraga, movie freak, gamers, pecinta lagu semua aliran, jago memainkan peralatan musik, perokok aktif (sehari penah 3bungkus wkwkwk) dan selalu menatap masa lalunya yg tiap hari ditinggal pergi kedua orang tuanya bekerja, tapi dia mempunyai hobi membaca yg membuat otaknya terisi dan pintar apabila bercakap cakap ehehe novel kesukaanya tere liye dan pidi baiq, jadi aja gw semenjak sd smp sma ampe kuliah maen trus kerumahnya yg gak jauh dari rumah gw di pdl, beliau lulus sma taun 2009 dengan rata rata nilai un 9,2, (sangat berbeda jauh dengan kelakuannya ahaha *peace), setelah lulus sma perjuangan dia sebagai manusia dimulaii #jeng jeng, pada tahun pertama dia masuk polban teknik mesin (mungkin karena dia jago matematika) dia lumayan lancar menjalani semua mata kuliah tapii, karena mungkin ketauan sering mabal Aka bolos, dia dipaksa masuk sekolasekolah penerbangan menjadi ATC di curug, alhasil kuliah di polban berakhir di semester ke 2,, taun berikutnya dia dibotakin alasan masuk curug yg dikenal dengan keotoriteranya atas perintah bapaknya yaitu uwa ane ihhi, ane pun diajak mengantarkan sodara ane si areza ini shubuh shubuh ke curug di tangerang,,
tak lama tak ada kabar tentang si doi, ane kira si doi adem ayem ngikuti pendidikan super hero di cunguk, ehhh ternyata pada shubuh hari bude ane nelpon ke ibu gw, bahwa si areza kabur dari sekolah curug, dan reaksi gw pun kaget gak kepalang wkwkk gak nyangka ada orang yg bisa lolos dari sekolah penerbangan paling ketat di asean yg lingkungannya tentara au semua bayanginnn,, bude gw nangis tersedu sedu, gw denger karena hpnya dispeaker shubuh shubuh wkwkk, dan babeh ane di tugaskan mencari orang bisa untuk menemukan goblin ini wkwkwk, dan alhasil babeh ane udh dapet dan tiga hari setelah areza kabur dia ditemukan oleh orang bisa di sebuh pizza hut sedangkan merayakan ulang tahun pacarnya, hadeuhh
''kmarin kmarin gw nanya yg sebenernya knpa bisa lolos dari penjara horor seperti itu a? areza pun agak sedikit menurunkan suaranya dan berbisik kepadaku bahwa itu adalah rahasiaa.. , gw paksa ngomong kaya diinterogasi gitu dan ane menemnukan titik terang, dia menjawab dengan raut penuh ketegangan bahwa di curug ada hantunya di seberang tempat tidur yaitu di lemari dan jendela tiap malam dan ada sedikit bisikan itu pocong ihihi, ehh kunti deng yang memberi jalan keluar agar dia pulang kerumah, entahlahh gak penting, dan doi pun lelah menjalani siksaan dari kakak" kelasnya yg menyebabkan dia trauma wkwkkk, dann pelaksanaan keluar dari curug pun direncanakan sendiri *catetan pelajar di curug tidak di bolehkan menggunakan hp dan membawa uang saku,,
nahh dia mikir gmna caranya lolos, dia pun mulai bertanya ke teman sebelah kasurnya sambil bisik bisik #masa sambil teriak, pasti langsung digebukin wkwkkk, dia nanya ke sebelahh ehh ternyata dia nyimpen duit 30rb, #entah persembunyian terselubung, dia pun beralasan meminjam duit tersebut lupa lagi entah untuk keperluan apa, dan duit dia menjadi 70rb mungkin dia ngumpetin 40rbnya, dan pelarian pun dimulai pada tengah malam dia menyelinap sewaktu yang lain sedang terlelap, dia berlari memakai ujung kaki diantara kamar pelajar lain tanpa membawa apapun, seperti ada yang membimbing dia untuk lolos melewati provos yang anehnya tak ada yg berjaga pada malam itu, setelah melewati provos, dia mulai menaikan tempo berjalanya dan mulai berlari bagai forest gump di keheningan malam..
mentari mulai terbit di ufuk barat dia berlari dengan semua kekhawatiran rasa takut dan amarahnya, berlari menggunakan pakean yg dipake mirip seorang tahanan dan kepala plontosnya,,, perlahan dia mulai kecakpean dan mulai agak menurunkan temponya, sekolah curug pun sudah mulai jauh tak terlihat, dia celingukan tak tahu arah jalan pulang, dia pun mulai bertanya mencari dimana sebuah terminal bus terdekat, dia menemukan busnya dan kemudian membeli makanan kecil dan rokok tiga batang *smbil mendengarkan lagu we are the champion --- dan setelah itu dia menganggur dan merubah pola pikirnya akan pendidikan..
tahun berikutya dia daftar unikom jurusan hukum yang hanya kuat 2 semester, kebanyakan mabal mungkin alasanya dan hasil ipk nya pun diperlihatkan kepadaku yaitu 0,0 wkwkk
setelah unikom dia daftar unpad dengan umur yg tentu sudah tidak muda dia mengambil jurusan manajemen,, *anehnya pun dia masuk universitas besar di bandung tanpa ada hambatan, dan tak beda jauh dengan univ univ lain diunpad hnya kuat 1 semester ahahaha
setelah dari unpad, dia daftar universitas entah apa lupa lagi dia pun hanya daftar dan tak hadir dalam pertemuannya,,
dan setelah muak mengenyam pendidikan, pengalamannya pun sudah sangat bnyak seperti duit yg sudah dikeluarkan, pada tahun 2013-2015 kerjaan dia hanya bermalas malasan dirumah browsing nonton film maen gitar ngerokok tidur, dan jarang maen keluar karena kerumitan hubungannya karena dia sudah mengambil pacar teman dekatnya wkwkk peace, aku pun selalu menghiburnya setiap pulang sma maupun liburan sekolah, kuliah maupun mabal kuliah,,,,
dan pada bulan january 2015 aku diajak dia sekolah foo, dengan di imingi bakal kerja enak menjadi assisten pillot darat, dan juga gaji yg besar, awalnya aku nolak karena biaya pendidikan yg mahal dan akupun masih kuliah, tapi akhir akhir ini pun aku sering mengeluh akan jurusan yg mesin yang kurang aku suka, mungkin efek temenan areza kata bapakku, ahaha
akupun mulai bilang ke ortu aku diajak masuk foo, dan mereka awalnya kesulitan yg hnya berpenghasilan dari jualan nasi kuning, tapi lama kelamaan mereka tanggapi,ehh sanggupi,--
setelah penyanggupan itu kita berangkat rami ramai kesana ke trust,
di trust aku daftar foo dan umurku tak cukup karena harus minimal 21thn waktu itu umur gw masih 19 ahaha, yasudahlah aku masuk airline staff dan areza masuk foo, dan dua bulan kemudian aku langsung kerja enak sebagai staff, dan areza sudah 9bulan pendidikan belum kerja kerja,, semangat trus a,

memang areza (reza nugraha) adalah anak orang kaya yang bisa membeli apapun yang dia inginkan dia bisa menjadi apapun karena ada sokongan uang yg tidak sedikit dari orang tuanya dia bisa pergi kemanapun karena orang tuanya pekerja aviasi yg terpandang, tapi.. dia dibesarkan dilingkungan yang kelam karena tak ada kasih sayang orang tua didalamnya, dia dibesarkan oleh kesendirian karena sistem zaman dan ketamakan manusia, memang seluruh fasilitas yg dipake emang selalu update to date, mungkin dia senang akan peralatan mahalnya yg diberikan ortunya tetapi itu hanya sesaat dia marah pada dirinya sendiri, marah yg terpendam menjadi dendam dan dilampiaskan menjadi kelakuan yg kurang setimpal dan hanya menyakiti diri sendiri dan masa depannya,,
maju terus jangan menyerah ini bukanlah tujuan akhirmu, tapi acuanmu menjadi dewasa..

dialah yang udh ngedoktrin gw dari gw masih kecil ampe dewasa wkwkw entah gw harus menyesal dan entah gw bersyukur yang pasti gw selama ini bisa memilah kata kata kelakuan yg sempet dia lakuin dikesehariannya, mungkin dia bisa dikatain super hero stelah babeh gw thank you sir
mungkin ini bukan judul yg tepat, tapi nasi sudah menjadi feses yasudahlah ntar dilanjut #hiduptinjanisme

Jumat, 02 Oktober 2015

dirumah

gw sekarang lagi diwarnet yang lumayan agak jauh dari rumah, warnet ini diberi nama oleh pemiliknya "planet" dan warnet ini gw kunjungi sejak gw masih duduk dibangku smp, mungkin hanya sekedar melepas penat keadaan rumah yg sempit, rokok pun sering habis oleh keadaan billing yang terasa seperti kecepatan laser,,
gw sekarang dijam segini gak ada kerjaan, sia sia gw balik bandung, gak ada teman gak ada yg spesial gak ada pacar "jangan ditanya, gw sering mikir apa yang gw bawa setiap gw balik ke kota yg udah udh ngebesarin gw, gw menempuh perjalanan yg jauh dari tempat kerja gw, mess gw, dan hasilnya nolll besar hnya umur yang semakin tua jenggot yang semakin gillaa

Kamis, 01 Oktober 2015

filmotography

filmotoghrapy adalah nama folder yang berisikan film film di dalam komputer gw, disimpan di local disk D, berisikan film film terupdate selama aku bekerja, folder tersebut pun berisikan film yang didominasi anime dan sebagian hollywood (tongkat ajaib),,,
belakangan ini gw lagi nyari film film yang terkenal di dunia internasional tapi dilarang masuk ke indonesia, mungkin karena berbagai alasan, ya mungkin film tersebut mengandung unsur sara, porno, kekerasan, dan mungkin juga unsur kebenaran yang dirahasiakan oleh "segelintir orang" untuk membodohi "rakyat" nya agar rakyat"nya buta akan sejarah yang sebenarnya, dan segelintir orang itu pun menginginkan rakyatnya" nya mengikuti arus yang di buat oleh mereka,,,


The Act of Killing (Jagal) (2012)

Salah satu dari sekian banyak kalimat yang terkenal sekarang ini adalah “hukum dapat dibeli.” Sebenarnya miris, karena tidak peduli betapa lemahnya hukum tersebut setidaknya masih ada garis pembatas antara keadilan dan ketidakadilan. Nah, bagaimana jika tindakan kriminal dilindungi hukum, walaupun itu digunakan dengan dalil untuk menyelamatkan bangsa. The Act of Killing (Jagal) akan bercerita tentang sistem keadilan tersebut dengan cara dokumenter, menaruh moral sebagai atensi utama, salah satu film paling provokatif tahun 2012.




Pada tahun 1965, Jenderal Suharto berupaya menggulingkan Presiden Sukarno dengan menggunakan operasi militer G30S PKI sebagai alasan utama. Hal tersebut menyebabkan para pendukung Sukarno, dari partai komunis, buruh dan tani, hingga penduduk etnis Tionghoa secara tidak langsung ikut dilabeli terlibat dalam aksi G30S. Dalam satu tahun satu juta penduduk yang dianggap komunis tewas terbunuh. Anehnya hingga kini masih ada bagian dari operasi tersebut yang masih hidup dengan bebas. 
Ini adalah hiburan horror yang nyata, bagaimana ketika kita harus menyaksikan sosok yang dahulu dengan mudah dapat membunuh ratusan hingga ribuan jiwa manusia menggunakan tindakan ekstrim dan keji, namun sekarang masih dapat berjalan dengan bebas di lingkungan masyarakat, bahkan mendapatkan perlindungan dari kalangan yang menganggap dirinya adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan Indonesia. Ya, film ini seperti mempertanyakan apa arti sebenarnya dari sebuah keadilan dengan mengandalkan unsur moral bekerja di baris terdepan, dengan misi utama menghadirkan penyesalan lewat upaya merubah perspektif pelaku sesungguhnya dalam cara yang cerdik dan licik.


Upaya untuk menghidupkan kembali kisah pembantaian itu memang berhasil, namun isu tentang moral justru terasa jauh lebih menarik bagi saya, bagaimana arogansi ternyata telah menjadi budaya di Indonesia sejak lama. Sangat miris ketika menyaksikan Anwar tanpa rasa bersalah menunjukkan cara halus pembunuhan agar dapat mengurangi bekas darah yang tertinggal, bahkan ia menari bahagia di lokasi yang ia sebut merupakan tempat dimana paling sering dilakukan eksekusi. Menariknya Joshua Oppenheimer seperti tidak lupa untuk menghadirkan perbandingan dengan present day, menghadirkan Ibrahim Sinik sebagai komparasi peran surat kabar, hingga beberapa pemimpin masa kini yang sebenarnya juga tidak lepas dari kritik moral yang ditampilkan secara eksplisit. http://rorypnm.blogspot.co.id/2013/12/movie-review-act-of-killing-jagal-2013.html


The Look of Silence (Senyap) 2014

The Look of Silence berhasil menghadirkan secuil fakta yang selama ini Senyap berpuluh-puluh tahun. Selama ini kita khususnya generasi muda hanya dicekoki oleh film G30S PKI yang syarat akan propaganda penguasa saat itu. Bunyi yang terakhir kali terdengar pada tahun 1965 kini kembali terdengar melalui karya Oppenheimer. Tak ada satupun pembunuh yang menyesal. Mereka para pembunuh masih percaya bahwa apa yang mereka lalukan adalah aksi bela negara. Bernarkah politik menjadi jalan kebenaran untuk menghilangkan nyawa seseorang?. Tanpa proses peradilan, tanpa pembelaan, dan tanpa perlindungan dari negara. Memaafkan mungkin bukanlah kata-kata yang tepat untuk Adi jika tak ada penyesalan sedikitpun dari para pelaku. Siapa yang harus dimaafkan? Tak ada yang meminta maaf dan tak ada yang harus dimaafkan. Bunyi senyap yang kini terdengar kembali telah menagih. Apakah bunyi itu mau didengar oleh penguasa? atau hanya berhenti disini dan menjadi Senyap kembali. (jow) http://jadiberita.com/55649/review-the-look-of-silence-menagih-bunyi-dalam-senyap.html


The Year of Living Dangerously (1982)

Dalam sejarah Indonesia, peristiwa September 1965 akan selalu terpatri sebagai tragedi. Sekitar setengah juta orang, yang diduga terkait dengan Partai Komunis Indonesia, dibunuh dan dihapus eksistensinya dari muka bumi. Kemudian, terjadi perpindahan kekuasaan dari rezim Sukarno ke Suharto. Setelah 33 tahun propaganda dan pembatasan hak-hak kemanusiaan, fakta di balik peristiwa September 1965 tidak juga diluruskan di mata publik. Parahnya lagi, kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut kurang mendapat perhatian di komunitas internasional, dan kerap terabaikan dalam memori kolektif dunia luar sana, terutama dunia Barat.
Pada tahun 1982, Peter Weir punya kesempatan mengangkat peristiwa September 1965 lewat The Year of Living Dangerously. Disokong dengan bujet enam juta dollar dari MGM, film tersebut menandai kerja sama pertama antara Hollywood dan Australia dalam industri perfilman dunia. Bagi Indonesia, film tersebut adalah satu-satunya film tentang penumpasan PKI yang tidak diproduksi oleh rezim Suharto. Meski begitu, film ini tidak punya agenda meluruskan kenyataan yang dikaburkan selama Suharto berkuasa. Lebih parah lagi, film ini hanya memperlebar jarak simpati antara dunia Barat dan Indonesia. Pasalnya, tragedi berdarah dalam sejarah Indonesia tersebut diperlakukan sebagai latar belakang roman kedua protagonisnya, yang berasal dari Australia dan Inggris.
Pembuat film The Year of Living Dangerously berusaha keras membuat Casablanca dengan setting Indonesia, namun gagal dalam dua aspek. Pertama, relasi romantis antara kedua protagonis, Guy Hamilton (Mel Gibson) dan Jill Bryant (Sigourney Weaver), hanyalah tempelan standar ala Hollywood. Tidak ada chemistry di antara mereka, dan tidak ada perkembangan yang berarti di antara keduanya. Keduanya datang ke Indonesia, dan bertindak sebagai orang yang meliput dan memantau segala yang terjadi di sana. Tidak ada yang mengaitkan keberedaan mereka dengan kejadian di Indonesia secara organis. Berbeda, misalnya, dengan Rick Blaine, protagonis Casablanca. Meski dia orang Amerika, dia memang tinggal dan cari makan di Maroko. Keberjarakan tersebut menjadikan romansa antara Hamilton dan Bryant masalah bertahan hidup belaka. Pindahkan mereka ke genosida di Rwanda atau demo mahasiswa di Cina, dijamin The Year of Living Dangerously akan sama serunya.
Dangkalnya romansa antara kedua protagonis berdampak pada makin dangkalnya penggambaran kejadian yang melatari hubungan keduanya. Inlah kegagalan kedua The Year of Living Dangerously. Sebagai sebuah tragedi nasional, peristiwa September 1965 dipotret seadanya. Tidak ada investigasi lebih lanjut ke dalam mekanisasi politik di balik kejadian tersebut. Referensi perihal kegagalan pemberontakan partai komunis, yang didukung Sukarno, dan kesuksesan politik tandingan para petinggi militer, yang didukung CIA, disajikan secara minim. Konsekuensinya: peristiwa September 1965 hanya tergambar sebagai kejadian yang mempengaruhi orang-orang asing yang kebetulan ada di Indonesia. The Year of Living Dangerously lebih merekam para ekspatriat yang frustasi menghadapi krisis, ketimbang golongan buruh dan mahasiswa yang juga sama frustrasinya. Cerita yang berpotensi bicara banyak soal rezim Sukarno, dan mengangkat peristiwa September 1965 ke perhatian internasional, berakhir sebagai drama kejar-kejaran Hollywood belaka.
Eksotisme yang terkandung sekujur film semakin menegaskan cap Hollywood dalam The Year of Living Dangerously. Titik berangkatnya adalah musik pengiring rasa oriental, yang digubah oleh Maurice Jarre, komposer new age asal Prancis. Musik tersebut secara romantis mengiringi adegan-adegan kehidupan sehari-hari di Indonesia: mulai dari bagaimana para pribumi terlihat eksotis di mata para protagonisnya, lanjut ke rasa takjub para pribumi terhadap keberadaan orang dari luar negeri, hingga kondisi centang perenang para pribumi selama pergolakan para otoritas negara. Jarre mungkin lupa kalau bangsa Indonesia punya musiknya sendiri, di mana hanya sedikit di antaranya yang bernuansa oriental.
Satu-satunya penebusan dosa The Year of Living of Dangerously, walau tidak berarti banyak, terletak pada karakter Billy Kwan. Ada dua alasan kenapa tokoh laki-laki keturunan Tionghoa yang diperankan Linda Hunt itu terasa unik. Pertama, karena tantangan seni peran yang harus ia lakukan. Bayangkan, seorang perempuan Amerika memainkan laki-laki peranakan Cina. Kedua, karena perkembangan karakternya yang mewakili satu-satunya pernyataan film Hollywood ini tentang Indonesia. Di awal film, dia sangat optimis dengan rezim Sukarno. Seiring berkembangnya cerita, dia makin hilang simpati dan berujung pada penolakan segala hal yang berbau Sukarno. Baginya, Sukarno hanyalah seorang tukang bangun monumen, yang tidak melambangkan apa-apa kecuali ego dirinya. Hanya pada kesimpulan sempit tersebut, The Year of Living Dangerously berani bersuara nyaring. http://cinemapoetica.com/the-year-of-living-dangerously-melihat-indonesia-dari-hollywood/


pertahankan

apa yang harus di pertahankan, tingkah laku gw yang pemalas kekanak kanakan, idiot, kagak humoris jomblo, pengecut, ngelakuin segala yg dilarang oleh konteks peraturan yg sangat bnyak dan ketat, disini gw perwakilan dari jiwa jasad ingin mengucapkan '' SALAHKAH SAYA AKAN SEMUA INI''
semua ini terlalu rumit untuk diucapkan dalam keadaan sekarang, kesibukan dan tuntutan pekerjaan yang memaksa kita menyingkirkan berbagai kebutuhan pribadi, menjadi mesin yang isi otaknya hanya kewajiban kewajiban yang sama saban hari.... #catetanpelupa