Powered By Blogger

Kamis, 01 Oktober 2015

filmotography

filmotoghrapy adalah nama folder yang berisikan film film di dalam komputer gw, disimpan di local disk D, berisikan film film terupdate selama aku bekerja, folder tersebut pun berisikan film yang didominasi anime dan sebagian hollywood (tongkat ajaib),,,
belakangan ini gw lagi nyari film film yang terkenal di dunia internasional tapi dilarang masuk ke indonesia, mungkin karena berbagai alasan, ya mungkin film tersebut mengandung unsur sara, porno, kekerasan, dan mungkin juga unsur kebenaran yang dirahasiakan oleh "segelintir orang" untuk membodohi "rakyat" nya agar rakyat"nya buta akan sejarah yang sebenarnya, dan segelintir orang itu pun menginginkan rakyatnya" nya mengikuti arus yang di buat oleh mereka,,,


The Act of Killing (Jagal) (2012)

Salah satu dari sekian banyak kalimat yang terkenal sekarang ini adalah “hukum dapat dibeli.” Sebenarnya miris, karena tidak peduli betapa lemahnya hukum tersebut setidaknya masih ada garis pembatas antara keadilan dan ketidakadilan. Nah, bagaimana jika tindakan kriminal dilindungi hukum, walaupun itu digunakan dengan dalil untuk menyelamatkan bangsa. The Act of Killing (Jagal) akan bercerita tentang sistem keadilan tersebut dengan cara dokumenter, menaruh moral sebagai atensi utama, salah satu film paling provokatif tahun 2012.




Pada tahun 1965, Jenderal Suharto berupaya menggulingkan Presiden Sukarno dengan menggunakan operasi militer G30S PKI sebagai alasan utama. Hal tersebut menyebabkan para pendukung Sukarno, dari partai komunis, buruh dan tani, hingga penduduk etnis Tionghoa secara tidak langsung ikut dilabeli terlibat dalam aksi G30S. Dalam satu tahun satu juta penduduk yang dianggap komunis tewas terbunuh. Anehnya hingga kini masih ada bagian dari operasi tersebut yang masih hidup dengan bebas. 
Ini adalah hiburan horror yang nyata, bagaimana ketika kita harus menyaksikan sosok yang dahulu dengan mudah dapat membunuh ratusan hingga ribuan jiwa manusia menggunakan tindakan ekstrim dan keji, namun sekarang masih dapat berjalan dengan bebas di lingkungan masyarakat, bahkan mendapatkan perlindungan dari kalangan yang menganggap dirinya adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan Indonesia. Ya, film ini seperti mempertanyakan apa arti sebenarnya dari sebuah keadilan dengan mengandalkan unsur moral bekerja di baris terdepan, dengan misi utama menghadirkan penyesalan lewat upaya merubah perspektif pelaku sesungguhnya dalam cara yang cerdik dan licik.


Upaya untuk menghidupkan kembali kisah pembantaian itu memang berhasil, namun isu tentang moral justru terasa jauh lebih menarik bagi saya, bagaimana arogansi ternyata telah menjadi budaya di Indonesia sejak lama. Sangat miris ketika menyaksikan Anwar tanpa rasa bersalah menunjukkan cara halus pembunuhan agar dapat mengurangi bekas darah yang tertinggal, bahkan ia menari bahagia di lokasi yang ia sebut merupakan tempat dimana paling sering dilakukan eksekusi. Menariknya Joshua Oppenheimer seperti tidak lupa untuk menghadirkan perbandingan dengan present day, menghadirkan Ibrahim Sinik sebagai komparasi peran surat kabar, hingga beberapa pemimpin masa kini yang sebenarnya juga tidak lepas dari kritik moral yang ditampilkan secara eksplisit. http://rorypnm.blogspot.co.id/2013/12/movie-review-act-of-killing-jagal-2013.html


The Look of Silence (Senyap) 2014

The Look of Silence berhasil menghadirkan secuil fakta yang selama ini Senyap berpuluh-puluh tahun. Selama ini kita khususnya generasi muda hanya dicekoki oleh film G30S PKI yang syarat akan propaganda penguasa saat itu. Bunyi yang terakhir kali terdengar pada tahun 1965 kini kembali terdengar melalui karya Oppenheimer. Tak ada satupun pembunuh yang menyesal. Mereka para pembunuh masih percaya bahwa apa yang mereka lalukan adalah aksi bela negara. Bernarkah politik menjadi jalan kebenaran untuk menghilangkan nyawa seseorang?. Tanpa proses peradilan, tanpa pembelaan, dan tanpa perlindungan dari negara. Memaafkan mungkin bukanlah kata-kata yang tepat untuk Adi jika tak ada penyesalan sedikitpun dari para pelaku. Siapa yang harus dimaafkan? Tak ada yang meminta maaf dan tak ada yang harus dimaafkan. Bunyi senyap yang kini terdengar kembali telah menagih. Apakah bunyi itu mau didengar oleh penguasa? atau hanya berhenti disini dan menjadi Senyap kembali. (jow) http://jadiberita.com/55649/review-the-look-of-silence-menagih-bunyi-dalam-senyap.html


The Year of Living Dangerously (1982)

Dalam sejarah Indonesia, peristiwa September 1965 akan selalu terpatri sebagai tragedi. Sekitar setengah juta orang, yang diduga terkait dengan Partai Komunis Indonesia, dibunuh dan dihapus eksistensinya dari muka bumi. Kemudian, terjadi perpindahan kekuasaan dari rezim Sukarno ke Suharto. Setelah 33 tahun propaganda dan pembatasan hak-hak kemanusiaan, fakta di balik peristiwa September 1965 tidak juga diluruskan di mata publik. Parahnya lagi, kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut kurang mendapat perhatian di komunitas internasional, dan kerap terabaikan dalam memori kolektif dunia luar sana, terutama dunia Barat.
Pada tahun 1982, Peter Weir punya kesempatan mengangkat peristiwa September 1965 lewat The Year of Living Dangerously. Disokong dengan bujet enam juta dollar dari MGM, film tersebut menandai kerja sama pertama antara Hollywood dan Australia dalam industri perfilman dunia. Bagi Indonesia, film tersebut adalah satu-satunya film tentang penumpasan PKI yang tidak diproduksi oleh rezim Suharto. Meski begitu, film ini tidak punya agenda meluruskan kenyataan yang dikaburkan selama Suharto berkuasa. Lebih parah lagi, film ini hanya memperlebar jarak simpati antara dunia Barat dan Indonesia. Pasalnya, tragedi berdarah dalam sejarah Indonesia tersebut diperlakukan sebagai latar belakang roman kedua protagonisnya, yang berasal dari Australia dan Inggris.
Pembuat film The Year of Living Dangerously berusaha keras membuat Casablanca dengan setting Indonesia, namun gagal dalam dua aspek. Pertama, relasi romantis antara kedua protagonis, Guy Hamilton (Mel Gibson) dan Jill Bryant (Sigourney Weaver), hanyalah tempelan standar ala Hollywood. Tidak ada chemistry di antara mereka, dan tidak ada perkembangan yang berarti di antara keduanya. Keduanya datang ke Indonesia, dan bertindak sebagai orang yang meliput dan memantau segala yang terjadi di sana. Tidak ada yang mengaitkan keberedaan mereka dengan kejadian di Indonesia secara organis. Berbeda, misalnya, dengan Rick Blaine, protagonis Casablanca. Meski dia orang Amerika, dia memang tinggal dan cari makan di Maroko. Keberjarakan tersebut menjadikan romansa antara Hamilton dan Bryant masalah bertahan hidup belaka. Pindahkan mereka ke genosida di Rwanda atau demo mahasiswa di Cina, dijamin The Year of Living Dangerously akan sama serunya.
Dangkalnya romansa antara kedua protagonis berdampak pada makin dangkalnya penggambaran kejadian yang melatari hubungan keduanya. Inlah kegagalan kedua The Year of Living Dangerously. Sebagai sebuah tragedi nasional, peristiwa September 1965 dipotret seadanya. Tidak ada investigasi lebih lanjut ke dalam mekanisasi politik di balik kejadian tersebut. Referensi perihal kegagalan pemberontakan partai komunis, yang didukung Sukarno, dan kesuksesan politik tandingan para petinggi militer, yang didukung CIA, disajikan secara minim. Konsekuensinya: peristiwa September 1965 hanya tergambar sebagai kejadian yang mempengaruhi orang-orang asing yang kebetulan ada di Indonesia. The Year of Living Dangerously lebih merekam para ekspatriat yang frustasi menghadapi krisis, ketimbang golongan buruh dan mahasiswa yang juga sama frustrasinya. Cerita yang berpotensi bicara banyak soal rezim Sukarno, dan mengangkat peristiwa September 1965 ke perhatian internasional, berakhir sebagai drama kejar-kejaran Hollywood belaka.
Eksotisme yang terkandung sekujur film semakin menegaskan cap Hollywood dalam The Year of Living Dangerously. Titik berangkatnya adalah musik pengiring rasa oriental, yang digubah oleh Maurice Jarre, komposer new age asal Prancis. Musik tersebut secara romantis mengiringi adegan-adegan kehidupan sehari-hari di Indonesia: mulai dari bagaimana para pribumi terlihat eksotis di mata para protagonisnya, lanjut ke rasa takjub para pribumi terhadap keberadaan orang dari luar negeri, hingga kondisi centang perenang para pribumi selama pergolakan para otoritas negara. Jarre mungkin lupa kalau bangsa Indonesia punya musiknya sendiri, di mana hanya sedikit di antaranya yang bernuansa oriental.
Satu-satunya penebusan dosa The Year of Living of Dangerously, walau tidak berarti banyak, terletak pada karakter Billy Kwan. Ada dua alasan kenapa tokoh laki-laki keturunan Tionghoa yang diperankan Linda Hunt itu terasa unik. Pertama, karena tantangan seni peran yang harus ia lakukan. Bayangkan, seorang perempuan Amerika memainkan laki-laki peranakan Cina. Kedua, karena perkembangan karakternya yang mewakili satu-satunya pernyataan film Hollywood ini tentang Indonesia. Di awal film, dia sangat optimis dengan rezim Sukarno. Seiring berkembangnya cerita, dia makin hilang simpati dan berujung pada penolakan segala hal yang berbau Sukarno. Baginya, Sukarno hanyalah seorang tukang bangun monumen, yang tidak melambangkan apa-apa kecuali ego dirinya. Hanya pada kesimpulan sempit tersebut, The Year of Living Dangerously berani bersuara nyaring. http://cinemapoetica.com/the-year-of-living-dangerously-melihat-indonesia-dari-hollywood/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar