belakangan ini gw lagi nyari film film yang terkenal di dunia internasional tapi dilarang masuk ke indonesia, mungkin karena berbagai alasan, ya mungkin film tersebut mengandung unsur sara, porno, kekerasan, dan mungkin juga unsur kebenaran yang dirahasiakan oleh "segelintir orang" untuk membodohi "rakyat" nya agar rakyat"nya buta akan sejarah yang sebenarnya, dan segelintir orang itu pun menginginkan rakyatnya" nya mengikuti arus yang di buat oleh mereka,,,
The Act of Killing (Jagal) (2012)
Salah satu dari
sekian banyak kalimat yang terkenal sekarang ini adalah “hukum dapat dibeli.”
Sebenarnya miris, karena tidak peduli betapa lemahnya hukum tersebut
setidaknya masih ada garis pembatas antara keadilan dan ketidakadilan. Nah,
bagaimana jika tindakan kriminal dilindungi hukum, walaupun itu digunakan
dengan dalil untuk menyelamatkan bangsa. The
Act of Killing (Jagal) akan bercerita tentang sistem keadilan tersebut
dengan cara dokumenter, menaruh moral sebagai atensi utama, salah satu film
paling provokatif tahun 2012.
Pada tahun 1965,
Jenderal Suharto berupaya
menggulingkan Presiden Sukarno dengan
menggunakan operasi militer G30S PKI
sebagai alasan utama. Hal tersebut menyebabkan para pendukung Sukarno, dari
partai komunis, buruh dan tani, hingga penduduk etnis Tionghoa secara tidak langsung ikut dilabeli terlibat dalam aksi
G30S. Dalam satu tahun satu juta penduduk yang dianggap komunis tewas terbunuh.
Anehnya hingga kini masih ada bagian dari operasi tersebut yang masih hidup
dengan bebas.
Ini adalah
hiburan horror yang nyata, bagaimana ketika kita harus menyaksikan sosok yang
dahulu dengan mudah dapat membunuh ratusan hingga ribuan jiwa manusia
menggunakan tindakan ekstrim dan keji, namun sekarang masih dapat berjalan
dengan bebas di lingkungan masyarakat, bahkan mendapatkan perlindungan dari
kalangan yang menganggap dirinya adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan
Indonesia. Ya, film ini seperti mempertanyakan apa arti sebenarnya dari sebuah
keadilan dengan mengandalkan unsur moral bekerja di baris terdepan, dengan misi
utama menghadirkan penyesalan lewat upaya merubah perspektif pelaku
sesungguhnya dalam cara yang cerdik dan licik.
Upaya untuk
menghidupkan kembali kisah pembantaian itu memang berhasil, namun isu tentang
moral justru terasa jauh lebih menarik bagi saya, bagaimana arogansi ternyata
telah menjadi budaya di Indonesia
sejak lama. Sangat miris ketika menyaksikan Anwar tanpa rasa bersalah
menunjukkan cara halus pembunuhan agar dapat mengurangi bekas darah yang
tertinggal, bahkan ia menari bahagia di lokasi yang ia sebut merupakan tempat
dimana paling sering dilakukan eksekusi. Menariknya Joshua Oppenheimer seperti tidak lupa untuk menghadirkan
perbandingan dengan present day, menghadirkan Ibrahim Sinik sebagai komparasi
peran surat kabar, hingga beberapa pemimpin masa kini yang sebenarnya juga
tidak lepas dari kritik moral yang ditampilkan secara eksplisit. http://rorypnm.blogspot.co.id/2013/12/movie-review-act-of-killing-jagal-2013.html
The Look of Silence (Senyap) 2014
The Look of Silence berhasil menghadirkan secuil fakta yang selama ini
Senyap berpuluh-puluh tahun. Selama ini kita khususnya generasi muda
hanya dicekoki oleh film G30S PKI yang syarat akan propaganda penguasa
saat itu. Bunyi yang terakhir kali terdengar pada tahun 1965 kini
kembali terdengar melalui karya Oppenheimer. Tak ada satupun pembunuh
yang menyesal. Mereka para pembunuh masih percaya bahwa apa yang mereka
lalukan adalah aksi bela negara. Bernarkah politik menjadi jalan
kebenaran untuk menghilangkan nyawa seseorang?. Tanpa proses peradilan,
tanpa pembelaan, dan tanpa perlindungan dari negara. Memaafkan mungkin
bukanlah kata-kata yang tepat untuk Adi jika tak ada penyesalan
sedikitpun dari para pelaku. Siapa yang harus dimaafkan? Tak ada yang
meminta maaf dan tak ada yang harus dimaafkan. Bunyi senyap yang kini
terdengar kembali telah menagih. Apakah bunyi itu mau didengar oleh
penguasa? atau hanya berhenti disini dan menjadi Senyap kembali. (jow) http://jadiberita.com/55649/review-the-look-of-silence-menagih-bunyi-dalam-senyap.html
The Year of Living Dangerously (1982)
Dalam sejarah Indonesia, peristiwa
September 1965 akan selalu terpatri sebagai tragedi. Sekitar setengah
juta orang, yang diduga terkait dengan Partai Komunis Indonesia, dibunuh dan dihapus eksistensinya dari muka bumi. Kemudian, terjadi perpindahan kekuasaan dari rezim Sukarno ke Suharto.
Setelah 33 tahun propaganda dan pembatasan hak-hak kemanusiaan, fakta
di balik peristiwa September 1965 tidak juga diluruskan di mata publik.
Parahnya lagi, kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut kurang mendapat
perhatian di komunitas internasional, dan kerap terabaikan dalam memori
kolektif dunia luar sana, terutama dunia Barat.
Pada tahun 1982, Peter Weir punya kesempatan mengangkat peristiwa September 1965 lewat The Year of Living Dangerously. Disokong dengan bujet enam juta dollar dari MGM,
film tersebut menandai kerja sama pertama antara Hollywood dan
Australia dalam industri perfilman dunia. Bagi Indonesia, film tersebut
adalah satu-satunya film tentang penumpasan PKI yang tidak diproduksi
oleh rezim Suharto. Meski begitu, film ini tidak punya agenda meluruskan
kenyataan yang dikaburkan selama Suharto berkuasa. Lebih parah lagi,
film ini hanya memperlebar jarak simpati antara dunia Barat dan
Indonesia. Pasalnya, tragedi berdarah dalam sejarah Indonesia tersebut
diperlakukan sebagai latar belakang roman kedua protagonisnya, yang
berasal dari Australia dan Inggris.
Pembuat film The Year of Living Dangerously berusaha keras membuat Casablanca dengan setting Indonesia, namun gagal dalam dua aspek. Pertama, relasi romantis antara kedua protagonis, Guy Hamilton (Mel Gibson) dan Jill Bryant (Sigourney Weaver), hanyalah tempelan standar ala Hollywood. Tidak ada chemistry
di antara mereka, dan tidak ada perkembangan yang berarti di antara
keduanya. Keduanya datang ke Indonesia, dan bertindak sebagai orang yang
meliput dan memantau segala yang terjadi di sana. Tidak ada yang
mengaitkan keberedaan mereka dengan kejadian di Indonesia secara
organis. Berbeda, misalnya, dengan Rick Blaine, protagonis Casablanca.
Meski dia orang Amerika, dia memang tinggal dan cari makan di Maroko.
Keberjarakan tersebut menjadikan romansa antara Hamilton dan Bryant
masalah bertahan hidup belaka. Pindahkan mereka ke genosida di Rwanda atau demo mahasiswa di Cina, dijamin The Year of Living Dangerously akan sama serunya.
Dangkalnya romansa antara kedua protagonis
berdampak pada makin dangkalnya penggambaran kejadian yang melatari
hubungan keduanya. Inlah kegagalan kedua The Year of Living Dangerously.
Sebagai sebuah tragedi nasional, peristiwa September 1965 dipotret
seadanya. Tidak ada investigasi lebih lanjut ke dalam mekanisasi politik
di balik kejadian tersebut. Referensi perihal kegagalan pemberontakan
partai komunis, yang didukung Sukarno, dan kesuksesan politik tandingan
para petinggi militer, yang didukung CIA, disajikan secara minim.
Konsekuensinya: peristiwa September 1965 hanya tergambar sebagai
kejadian yang mempengaruhi orang-orang asing yang kebetulan ada di
Indonesia. The Year of Living Dangerously lebih merekam para
ekspatriat yang frustasi menghadapi krisis, ketimbang golongan buruh dan
mahasiswa yang juga sama frustrasinya. Cerita yang berpotensi bicara
banyak soal rezim Sukarno, dan mengangkat peristiwa September 1965 ke
perhatian internasional, berakhir sebagai drama kejar-kejaran Hollywood
belaka.
Eksotisme yang terkandung sekujur film semakin menegaskan cap Hollywood dalam The Year of Living Dangerously. Titik berangkatnya adalah musik pengiring rasa oriental, yang digubah oleh Maurice Jarre, komposer new age asal
Prancis. Musik tersebut secara romantis mengiringi adegan-adegan
kehidupan sehari-hari di Indonesia: mulai dari bagaimana para pribumi
terlihat eksotis di mata para protagonisnya, lanjut ke rasa takjub para
pribumi terhadap keberadaan orang dari luar negeri, hingga kondisi
centang perenang para pribumi selama pergolakan para otoritas negara.
Jarre mungkin lupa kalau bangsa Indonesia punya musiknya sendiri, di
mana hanya sedikit di antaranya yang bernuansa oriental.
Satu-satunya penebusan dosa The Year of Living of Dangerously,
walau tidak berarti banyak, terletak pada karakter Billy Kwan. Ada dua
alasan kenapa tokoh laki-laki keturunan Tionghoa yang diperankan Linda Hunt itu
terasa unik. Pertama, karena tantangan seni peran yang harus ia
lakukan. Bayangkan, seorang perempuan Amerika memainkan laki-laki
peranakan Cina. Kedua, karena perkembangan karakternya yang mewakili
satu-satunya pernyataan film Hollywood ini tentang Indonesia. Di awal
film, dia sangat optimis dengan rezim Sukarno. Seiring berkembangnya
cerita, dia makin hilang simpati dan berujung pada penolakan segala hal
yang berbau Sukarno. Baginya, Sukarno hanyalah seorang tukang bangun
monumen, yang tidak melambangkan apa-apa kecuali ego dirinya. Hanya pada
kesimpulan sempit tersebut, The Year of Living Dangerously berani bersuara nyaring. http://cinemapoetica.com/the-year-of-living-dangerously-melihat-indonesia-dari-hollywood/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar